BeritaFortnite

Epic Games menuntut lebih banyak cheater di Fortnite, salah satunya anak umur 14 Tahun

Pada bulan Oktober, Epic mengambil langkah yang tidak biasa untuk tidak hanya banned dua pemain Fortnite dari permainan karena melakukan cheater, namun membawa mereka ke pengadilan. Sejak saat itu penerbit dan pengembang telah mengajukan tuntutan terhadap setidaknya sembilan orang lagi, baik di Amerika Serikat maupun luar negeri. Dan terungkap bahwa salah satu terdakwa baru berusia 14 tahun.

Pada 10 Oktober, Epic Games mengeluarkan dua tuntutan hukum, masing-masing terhadap Brandon Broom dan Charles Vraspir, keduanya dikatakan terkait dengan layanan cheat berlangganan yang sama. Di bawah Digital Millennium Copyright Act, baik Broom dan Vraspir salah dalam menciptakan cheat yang memanfaatkan kekayaan intelektual Epic. Catatan pengadilan menunjukkan bahwa kedua tuntutan hukum tersebut diajukan melalui pengadilan distrik A.S. dan dapat mengakibatkan denda hingga 2 miliar Rupiah, per kasus.

Epic Fortnite Cheater sangat menanggapi dengan serius para cheat atau pelanggaran hak cipta yang sedang berlaku dari siapapun pada usia berapapun. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, kami mengurus cheater dengan serius, dan kami akan mengejar semua opsi yang ada untuk memastikan permainan kami menyenangkan, adil, dan kompetitif untuk para pemain.

Tapi ibu remaja itu tidak senang. Ibu tersebut menulis sebuah surat yang sangat tegas kepada pengadilan yang mengklaim bahwa anaknya dijadikan sebagai kambing hitam, menurut TorrentFreak.

Advertisement

Dalam surat diatas, ibu terdakwa itu membuat beberapa poin berikut:

  • Anaknya tidak memodifikasi permainan atau membuat cheat software seperti yang telah diduga oleh Epic Games, dan “Epic Games tidak memiliki kemampuan untuk membuktikan modifikasi apapun”.
  • Dia mengakui bahwa anaknya menggunakan cheat yang sudah ada sebelumnya dan menjalani hidup mereka, tapi “banyak orang lain telah dan saat ini melakukan ini karena surat ini sedang diketik”.
  • Fornite membutuhkan izin orang tua untuk dimainkan oleh anak di bawah umur, yang tidak pernah dia berikan.
  • Epic Games tidak bisa mengklaim “kehilangan keuntungan massal” karena game ini free-to-play. Dia mengklaim Epic menggunakan anaknya “sebagai kambing hitam” karena tidak bisa mengekang curang.
  • Nama dan detail anaknya dilepas ke publik, yang karena dia anak di bawah umur adalah ilegal.
  • Anaknya tidak menghasilkan uang dari liveesting cheats ini.

Sang ibu meminta ke Hakim Distrik untuk memberhentikan kasus tersebut “karena pelanggaran tersebut tidak menyamakan tuntutan anak di bawah umur oleh perusahaan game besar”.

Layanan cheat tersebut juga tidak gratis, dengan para pemain harus membayar antara 5 sampai 15 dollar per bulan jika mau memakai cheat tersebut.

Berikan Rating untuk Konten ini:

Advertisement

Terima Kasih

Bermain Game jangan sampai Melalaikan Waktu / Kewajiban ya!

Gabung Komunitas VazGaming

VazGaming

Always connected to the internet. Ikuti media sosial saya di bawah ini, siapa tau bisa main bareng.

Baca Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *